Jakarta — Sorotan nyata kembali menyoroti ketegangan antara protes publik dan dinamika pasar modal: IHSG jeblok tajam di tengah gelombang demo, sementara investor asing justru memanfaatkan momentum untuk masuk diam-diam.
Faktanya, Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 2% saat pasar rewel oleh aksi demo di ibu kota dan sejumlah daerah. Menurut CNBC Indonesia, IHSG pada awal perdagangan turun sekitar 1,53%, mencerminkan ketegangan politik yang kini juga mempengaruhi sektor finansial. Namun menariknya, di saat pasar keropos, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 1,3 triliun yang menandakan masuknya “modal cerdik” ke saham-saham yang sedang melemah. (CNBC Indonesia, Ambisius News)
Sebelumnya, Detik Finance melaporkan bahwa pelemahan IHSG ini dikaitkan langsung dengan tekanan aksi demonstrasi. Aksi penjualan asing bersih turut memperlemah indeks di tengah ketidakpastian politik serta keamanan domestik.(detikfinance) Sementara itu, ANTARA News menyebut bahwa IHSG turun sekitar 1,97%, dan analis dari Mirae Asset Sekuritas menyadari adanya korelasi kuat antara aksi massa dan turunnya pasar keuangan.(Antara News)
Biarpun angka nihil stabilitas meresahkan, ada pelajaran yang lebih besar di balik grafik turun-naik ini: jika pasar tak bijak mengelola situasi internal, asing bisa “menciumi peluang” dan masuk ke pasar ketika kepercayaan investor lokal terguncang.
Calm down, ini bukan tentang takut investasi asing—tapi tentang menyadari bahwa mereka bisa “menunggang” ketidaktangguhan pasar saham tanah air tanpa kita sadari. Sebagai bangsa, kita patut bertanya: apakah kita cukup siap menciptakan ekonomi yang tangguh dan tahan gelombang?
Sebagai refleksi, momentum ini patut dijadikan bahan renungan bersama: nasionalisme bukan hanya bela negara, tetapi membangun pondasi ekonomi yang stabil—agar ketika demo menggerus pasar, kita sudah punya sistem sendiri yang menjaga nilai dan kedaulatan finansial. Asing boleh datang beli—tapi jangan biarkan mereka mengatur irama pasar ketika kita sedang bergumul di jalan-jalan. Karena itu juga pilihan hidup—membangun kekuatan bersama, bukan sekadar bertahan, tapi memimpin langkah ekonomi masa depan.
Ingin tahu pola pikir yang membuat Anda sukses, ikuti terus pilihanhidup.com