Di ruang kelas yang penuh catatan dan ujian, siswa SMA/SMK seringkali merasa aktivitas di luar sekolah jadi sekadar pelengkap—atau malah kewajiban membosankan. Realitasnya, dunia kerja membutuhkan lebih dari nilai rapor. Kamu butuh kompetensi nyata yang sering kali dibentuk bukan di dalam kelas, tapi lewat ekstrakurikuler yang tepat.
Coba lihat data dari studi di Pune, India—HR dari berbagai industri menyatakan hanya 20% penilaian perekrutan berbasis kemampuan akademis. Sebaliknya, 80% lebih didominasi oleh soft skills seperti leadership, komunikasi, teamwork, multitasking, kejujuran, dan ketekunan—semua bisa diasah lewat ekstrakurikuler yang aktif (ResearchGate).
Sebagai orangtua atau guru, kita perlu merenung: apakah kita hanya mendorong siswa mengejar nilai, atau mulai mendampingi mereka memilih kegiatan yang membentuk kepribadian dan kesiapan kerja? Mengejar ekskul bukan sekadar mengisi waktu, tapi memupuk kompetensi nyata.
Berikut lima ekstrakurikuler yang sangat bermanfaat untuk siswa SMA/SMK:
- Debat atau Public Speaking – Melatih komunikasi, retorika, dan percaya diri.
- OSIS atau Kepemimpinan Sekolah – Merintis manajemen organisasi dan tanggung jawab nyata.
- Pramuka atau Volunteering – Melatih kerja sama tim, ketahanan, dan empati.
- Klub STEM atau Teknologi – Membangun inisiatif, problem solving, dan keterampilan digital.
- Kegiatan Bisnis Kreatif (seperti bazar, tapak temu) – Menumbuhkan kreativitas, entrepreneurship, dan manajemen waktu.
Untuk memperkuat validitas, riset dari Migration Letters (2023) menemukan bahwa siswa yang aktif dalam ekstrakurikuler menunjukkan perkembangan signifikan dalam keterampilan sosial dan emosional — seperti inisiatif, kontrol diri, dan kepemimpinan (Migration Letters).
Buat refleksi sejenak: apakah kamu membiarkan anak atau muridmu sekadar lulus dengan nilai, atau kamu ingin mereka tumbuh menjadi individu yang siap kerja, berani maju, dan punya karakter kuat? Nilai boleh tinggi, tapi kecakapan hidup itu yang membedakan.
Ada kisah inspiratif dari Adi, siswa SMK otomotif. Awalnya ia hanya ikut workshop mobil klasik di ekstrakurikuler otomotif. Lama-kelamaan, Adi membuat pelajaran singkat ekstra untuk teman-temannya tentang perawatan mobil. Kini, Omnya pinjamkan rongsokan motor tua keju untuk Adi bersihkan dan jual modifikasi. Sekarang Adi punya side-income, pengalaman, dan reputasi sebagai anak yang peduli keterampilan. Ini adalah pilihan hidup—memilih ekskul bukan hanya mengisi waktu kosong, tapi membentuk masa depan yang produktif dan bermakna.
Karena faktanya, siswa SMA/SMK adalah generasi yang hidup di era digital, dengan lambat mentransfer mereka hanya ke sekolah konvensional akan membuat mereka “buntu kreatif”. Malah, kita bisa mendampingi mereka mengeksplorasi dunia lewat ekstrakurikuler cerdas, selaras dengan sistem informasi sekolah modern yang mendukung manajemen belajar, monitoring, dan integrasi aktivitas—yakni sistem-informasi-sekolah, serta manajemen-sekolah-digital yang mempermudah administrasi, pelacakan ekskul, dan komunikasi. Dengan begitu, sekolah menjadi platform penuh pilihan hidup—bukan sekadar tempat menuntut nilai.