Indonesia Masuki Masa Penuaan Penduduk dengan Lansia Naik 20 Persen

Saat ini usia Herman Susanto menginjak 46 tahun. Bayangan mengenai masa tuanya saat lanjut usia (lansia) belum terpikirkan. Hanya saja sejumlah rencana udah mulai dipersiapkan. Salah satunya mengenai keuangannya.

Herman sudah mulai menabung untuk mewujudkan impiannya untuk mempunyai kontrakan di Kota Jakarta. Kata dia, kontrakan itu nantinya untuk membantu perekonomiannya saat sudah lansia. Sebab, bapak dari anak satu itu berprinsip tidak ingin merepotkan putrinya kelak.

“Persiapan lain ingin belajar menulis. Jadi, saat sudah pensiun ada skill menulis buku sendiri. Sehingga bisa menawarkan draft buku pada penerbit. Enggak menadah tangan ke anak,” kata Herman kepada pilihanhidup.com.

Dia juga tidak ada rencana untuk menikmati masa tuanya di kampung halaman. Kelengkapan fasilitas kesehatan di Jakarta menjadi alasan utamanya. Selain itu, Herman mengaku sebagai peserta aktif BPJS ketenagakerjaan dan kesehatan.

Dia mengharapkan kedua program pemerintah tersebut nantinya sangat berguna saat dirinya sudah tua, khususnya BPJS kesehatan. Sebagai seorang anak yang seringkali mengantarkan ayahnya kontrol rutin ke rumah sakit, Herman juga mengharapkan nantinya pemerintah pusat terus melakukan perbaikan.

Misalnya semakin banyak obat-obatan yang ditanggung oleh program milik pemerintah tersebut. Menurut dia, terdapat beberapa penyakit yang seringkali dihadapi para lansia dan pengobatannya belum ditanggung. Contohnya alzheimer hingga penyakit demensia lainnya.

“Waktu nyokap sakit alzheimer itu ada obat enggak ditanggung dan emang lumayan harganya. Lalu untuk pelayanan fasilitas kesehatan lansia dapat diprioritaskan, yang penting tidak dipersulit-lah nantinya,” ucap dia.

Cerita-cerita persiapan masa pensiun seperti diatas banyak kita jumpai di kalangan orang-orang Indonesia dengan usia diatas 40 tahun.

Sebagai negara keempat dengan populasi terbesar dunia, Indonesia mendekati cepatnya penuaan penduduk. Atau makin meningkatnya jumlah penduduk dengan usia di atas 60 tahun. Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 1998 disebutkan bahwa penduduk lanjut usia (lansia) adalah mereka yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksikan adanya peningkatan persentase penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2045. Yakni sebanyak 19,90 persen dari total penduduk Indonesia.

Sedangkan data dari Kementrian PPN/Bappenas memprediksikan jumlah lansia pada 2045 berjumlah sekitar 61,4 juta jiwa atau sekitar 20-25 persen dari total penduduk. Atau satu dari lima penduduk Indonesia merupakan lansia.

 

Tantangan Indonesia Hadapi Fenomena Penuaan Penduduk

Fenomena penuaan penduduk bukanlah yang baru. Terdapat beberapa negara di dunia yang sudah menghadapinya dengan menerapkan beberapa kebijakan yang diberikan. Misalnya Jerman, Jepang, hingga beberapa negara lainnya.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Marya Yenita Sitohang, menyatakan bahwa fenomena penuaan penduduk berdampak pada suatu negara. Mulai dari aspek kesehatan, keuangan hingga kebutuhan lainnya yang perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Seperti halnya dari pemerintah sampai keluarga.

“Ageing population atau penuaan penduduk merupakan fenomena yang terjadi saat proporsi penduduk lanjut usia (lansia) cukup tinggi, hingga melebihi 20 persen. Sebagai dampak dari penurunan angka kelahiran dan meningkatnya angka harapan hidup, penuaan penduduk telah terjadi lebih dulu di negara-negara maju,” kata Marya tertuang dalam laman Liputan6.com.

Menurut dia, Indonesia perlu belajar dari sejumlah negara yang terlebih dulu mengalami fenomena penuaan penduduk. Marya menyatakan penduduk lansia identik dengan berbagai masalah kesehatan mulai dari penurunan fungsi penglihatan, pendengaran, pergerakan, dan sebagainya.

Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi berbagai penyakit menular, gizi buruk, dan penyakit tidak menular yang seringkali dijumpai pada lansia. Hal tersebut pada akhirnya akan membatasi aktivitas dan produktivitas para lansia. Bahkan, nantinya kondisi itu juga meningkatkan kebutuhannya terkait pelayanan kesehatan.

Karena itu dia, meminta agar pemerintah perlu melakukan sejumlah penguatan dalam menghadapi fenomena tersebut. Yakni dalam hal kesehatan yang mencakup sumber daya sampai kemampuan pelayanan fasilitas kesehatan. Sebab, pelayanan tersebut tidak hanya untuk lansia, tetapi semua masyarakat.

“Pemerintah juga harus memikirkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. Penuaan penduduk identik dengan peningkatan pembiayaan kesehatan karena naiknya penggunaan pelayanan serta teknologi kesehatan,” ucap dia.

 

Dorongan Hidup Sehat

Sementara itu dia juga meminta agar masyarakat usia produktif saat ini mulai melakukan perilaku hidup sehat. Dimulai dari olahraga secara teratur, pemenuhan gizi yang cukup, manajemen stress yang baik, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk membantu persiapan kesehatan fisik dan mental ketika berusia lanjut.

Marya menyebut, tantangan terbesar bagi negara yang mengalami penuaan penduduk adalah mengembangkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang seimbang dan berkelanjutan. Yaitu tanpa menitikberatkan pada subsidi negara atau masyarakat yang membayar saat menerima pelayanan kesehatan.

“Sejauh ini dari hasil penelitian yang pernah kita lakukan di pusat penelitian kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional, negara sudah memiliki beberap kebijakan yang mendukung lansia di masa depan. Salah satunya jaminan lansia yang dimiliki oleh BPJS ketenagakerjaan serta asuransi kesehatan dan BPJS kesehatan,” ujarnya.

 

Literasi Keuangan untuk Dana Pensiun Rendah

Lanjut dia, dalam aspek keuangan untuk kalangan PNS dan TNI/Polri sudah memiliki sistem dana pensiun. Namun, ada sejumlah pekerja rumah untuk angkatan kerja di sektor lainnya. Termasuk dalam menyiapkan sistem yang lebih baik untuk menjangkau para angkatan kerja di berbagai sektor.

Kata Marya, sebenarnya keberadaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan dan program pensiun untuk merupakan langkah awal yang baik untuk para lansia nantinya. Namun, literasi keuangan, khususnya dana pensiun, penduduk Indonesia masih perlu kita tingkatkan.

“Namun kita tahu sendiri ketika pemerintah meningkatkan aturan untuk bisa cairkan dan jaminan hari tua di atas usia 56 tahun itu terjadi protes di antara para buruh, sehingga aturannya sempat dibatalkan kembali. Jadi dari fenomena ini kita dapat melihat bahwa kesadaran penduduk Indonesia terkait pentingnya dana pensiun masih cukup rendah dan kita harus sadar bahwa kepemilikan dana pensiun untuk hari tua sangat penting,” papar dia.

Marya mengatakan terdapat sejumlah langkah yang sudah mulai dilakukan oleh pemerintah pusat dalam peningkatan kesejahteraan para lansia. Seperti halnya bantuan sosial dari Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan yang berupa posyandu lansia dan program terkait penyakit degeneratif yang diderita para lansia.

Kemudian adanya Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan. Aturan itu kata Marya diharapkan dapat menjadi pendorong terjadinya peningkatan kualitas sistem pelayanan kesehatan, peningkatan literasi keuangan, serta kebijakan terkait tempat tinggal lansia Indonesia di masa depan.

Apa yang perlu kita lakukan?

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan hal tersebut. Bila Anda sekarang diusia 30  sampai 40 masih mempunyai kesempatan untuk membangun pondasi “pensiun”.

Sementara kalau Anda masih bingung, jangan khawatir, saat ini ada sebuah komunitas yang setiap bulannya mengadakan pembahasan masa pensiun. Komunitas ini hadir memang untuk Anda yang mempersiapkan pensiun sekaligus mungkin masih mendampingi orang tua Anda sendiri atau mertua Anda.

Nama komunitas tersebut adalah Happy Sandwich Community. Bila ingin join silahkan klik disini.

Bagaimana Mencapai Tujuan Keuangan Keluarga ?

Ketika sebuah keluarga mempunyai tujuan keuangan dimasa depan (spt memiliki mobil, rumah, berlibur, sekolah dll) tetapi belum mengetahui bagaimana cara untuk mencapainya (berapa besar uang yang harus ditabung) sehingga frustasi,  karena kondisi keuangan saat ini tidak akan mampu untuk mencapai tujuan tersebut, maka artikel ini dibuat untuk memandu mengatasi problem diatas.

Untuk mengatasi problem tersebut , terdapat 3 step (langkah) sebagai berikut:

STEP 1 : Memahami kondisi keuangan saat ini.

STEP ini enjelaskan 3 tools yg dapat memberikan panduan dalam menganalisa/mengetahui kondisi keuangan keluarga yaitu:

  1. Membuat cash flow keuangan keluarga

Tools pertama adalah Laporan Keuangan Keluarga (Cash Flow). Cash flow memberikan informasi besarnya penghasilan, pembayaran hutang dan tabungan setiap bulan. Adapun tabungan yang ideal adalah dengan nilai minimal sebesar 10% atau 30% dari total gaji yg diterima.

  1. Membuat neraca keuangan keluarga

Tools kedua adalah neraca keuangan keluarga, adalah untuk memberikan informasi posisi total harta, hutang dan tabungan yang kita miliki. Secara sederhana, Harta yang kita miliki berasal dari hutang dan tabungan.

  1. Membuat portfolio harta keluarga

Tools ketiga dari step 1 adalah membuat laporan portfolio harta. Dimana Harta diklasifikasikan sebagai harta produktif dan harta konsumtif. Buatlah list seluruh harta anda dan lakukan klasifikasi. Berapakah harta anda yg produktif? Tools ini memberitahu anda apakah selama ini keputusan keuangan yg dibuat sudah benar? atau setidaknya memberikan panduan untuk mengambil keputusan dimasa yg akan datang.

STEP 2 : Menentukan tujuan keuangan keluarga

Adapun tujuan/mimpi keuangan keluarga sebagai berikut:

  1. Persiapan Pendidikan Anak
  2. Biaya Hidup Pensiun
  3. Membeli asset yang mahal (rumah, mobil dll)
  4. Perjalanan ibadah – naik haji

Setelah menentukan tujuan keluarga, langkah yang paling penting adalah menentukan berapa besarnya tabungan yang harus dikumpulkan.  Untuk kasus kita kali ini, keluarga tersebut menetapkan hanya satu tujuan keuangan keluarga, yaitu pendidikan anak, jika tabungan tersebut disimpan di deposito dengan bunga 6% setahun, maka tabungan setiap bulan haruslah sebesar 1.3 juta setiap bulan.

STEP 3 : Usaha-2 yg dilakukan agar tujuan keluarga dapat dicapai

Step 3 ini bertujuan untuk mengatasi gap jika kondisi saat ini (uang yang dapat ditabung setiap bulan) lebih kecil dari tabungan seharusnya (tabungan untuk mencapai tujuan keuangan di step 2). Usaha yang dilakukan untuk mengatasi gap tersebut terdiri dari 2 langkah yaitu:

  1. Memperbaiki kondisi keuangan saat ini (harus bisa saving minimal 10% dan optimal 30% dari total gaji). Terdiri dari 4 tips sbb:

Memahami konsep kebutuhan dan keinginan dan kemudian Istri dan Suami harus kompak untuk melakukan pengeluaran yang sifatnya kebutuhan. Menentukan pos – pos pengeluaran yang bersifat keinginan.

Melakukan project cost saving, eliminasi pos-pos untuk pemenuhan keinginan. Identifikasi biaya – biaya yg sifatnya keinginan yang dapat kita kurangi. Misalnya didalam biaya kebutuhan harian terdapat biaya makan bakso setiap minggu sebesar 50 rb. Maka biaya ini dapat ditekan. Lakukan untuk setiap jenis pengeluaran sehingga kita akan mendapatkan total list cost saving.

  • Menggunakan metode patty cash. Misalnya total pengeluaran untuk kebutuhanadalah sebear 2.5 juta/bulan, maka uang ini langsung dipisahkan. Suami/istri tidak boleh mengambil uang dari rekening lain. Harus commit dan mengusahakan uang ini cukup sampai akhir bulan.

 

  1. Menabung dan sekaligus melakukan investasi

Terinspirasi dari pemikiran Robert T kiyosaki, Menurut saya seorang karyawan baru akan dapat mencapai tujuan keluarganya jika Ia pun berlaku/bertindak sebagai investor. Hal ini yang saya sebut “bermain di dua quadran” yaitu quadran employee (karyawan) dan Quadran investor. Rata-rata karyawan menyimpan tabungannya di instrumen tradisional seperti deposito. Dalam menabung di deposito tidak akan membuat anda mencapai tujuan keuangan keluarga. Tetapi anda harus menabung dan langsung menginvestasikan tabungan tersebut di produk – produk investasi. Sebelum anda berinvestasi haruslah memahami bahwa investasi memiliki resiko. High risk – High return. Saya pribadi adalah risk taker, sehingga lebih memilih untuk mengambil action untuk berinvestasi, walaupun beresiko tetapi mempunyai kemungkinan untuk mencapai seluruh tujuan keuangan keluarga. Bagaimana dengan anda??? Jika tabungan tersebut langsung diinvestasikan di sebuah instrumen dengan return 20%-30%

Kebebasan dan Kebahagiaan

Setelah ketemu sahabat lama yang seorang trainer dan penulis juga, akhirnya saya mempunyai dorongan untuk berbagi.

Kali ini saya berbagi dalam bentuk pemikiran yang pernah aku baca dan pagi ini aku tuangkan dalam tulisan untuk semua rekan, teman seprofesi, sahabat, saudara dan my brother.

Ketika kita masih anak-anak, segala hal terlihat mungkin. Dunia terbentang luas dan kita melihat masa depan sebagai pengalaman yang menyenangkan. Kita bisa melakukan apa saja. Saya percaya bahwa kehidupan merupakan pengalaman, dan kebahagiaanmerupakan keadaan alami dan dimana posisi kita seharusnya. Namun kita membiarkan banyak hal merintangi kebahagiaan dan kebebasan kita. Dalam kehidupan kita, kita menghadapi banyak tantangan dan sayangnya, seringkali kita membiarkan tantangan tersebut merintangi jalan kita.

Dale Carnegie merupakan salah asatu penulis buku favorit saya. Ia benar-benar mengetahui seberapa menantangnya perjalanan yang kita lalui, dan ia menyediakan kita dengan beberapa panduan untuk memasuki wilayah yang sedang kita coba masuki. Berikut ini merupakan beberapa perangkap yang ia jabarkan menggunakan kata-katanya sendiri. Perangkap-perangkap berikut dapat merampas kebahagiaan dan kebebasan kita jika kita membiarkannya.

 

Keadaan

“Bukan apa yang anda miliki, atau siapa diri anda, atau dimana anda berada, atau apa yang anda lakukan yang membuat andabahagia. Namun apa pemikiran anda.”

Ketika Viktor Frankl mengalami penderitaan yang amat sangat mendalam ketika ia berada di kamp Nazi, ia menemukan bahwa bukan dunia luar yang membuat anda merasa bahagia atau tidak; melainkan apa yang anda pikirkan dalam kepala anda. Sudut pandang Frankl, yang ia tulis dalam buku “Man’s Search for Meaning” adalah kita semua bertanggung jawab atas pengalaman hidup kita. Dari Buddha yang mengatakan “kita adalah hasil pemikiran kita sendiri”, hingga Earl Nightingale yang dalam bukunya “The Strangest Secret” menulis bahwa “anda akan menjadi seperti yang anda pikirkan”, ratusan bahkan ribuan penulis dan pemikir telah mengutarakan hal yang sama. Andalah yang mengendalikan diri anda sendiri; sehingga jangan berikan kekuatan anda kepada orang lain.

 

Kritik

”Setiap orang bodoh bisa mengkritik, mengutuk, dan mengeluh – dan kebanyakan orang berbuat demikian.”

Orang seringkali mengkritik anda karena membuat kekeliruan dalam melakukan sesuatu atau melakukan kesalahan. Saya terbiasa menerima kritikan dan menganggap serius kritik-kritik tersebut. Namun ketika saya benar-benar menerima fakta bahwa saya tidak sempurna dan bahwa saya juga melakukan kesalahan (setiap saat!) sama seperti semua orang di dunia ini; kehidupan saya berubah. Saya menjadi lebih percaya diri, berani mengambil risiko, dan yang paling penting, saya berhenti merasa khawatir.

Ketika seseorang menuduh saya melakukan kesalahan, saya biasanya berkata (setidaknya ke diri saya sendiri), ‘Ya, saya melakukan kesalahan. Saya manusia dan saya tidak sempurna. Saya pelupa, tidak konsisten, salah waktu. Tapi tahukah anda? Hal itu normal. Anda diperbolehkan melakukan hal-hal yang saya sebutkan tadi.’ Dan saya juga ingat bahwa siapapun yang menuduh saya sebenarnya sedang menunjuk diri mereka sendiri.

Tentu saja, kita harus melakukan refleksi dan belajar dari kesalahan kita – melakukan kesalahan yang sama berulang kali bukan merupakan hal yang baik – namun menerima kerapuhan dan memaafkan diri kita sendiri merupakan poin penting untuk menjadi bahagia dan sukses. Jika kita terlalu memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian kita; hal itu sama saja dengan menyia-nyiakan kelebihan yang kita miliki.

 

Rasa Takut

”Lakukan hal yang anda takut untuk lakukan dan teruskanlah.. langkah tersebut merupakan cara tercepat dan terbaik untuk mengalahkan rasa takut.”

Sama seperti orang-orang pada umumnya, saya merasa takut untuk berbicara di depan umum. Jantung saya berdetak kencang, mulut saya terasa kering, tangan saya bergetar dan kulit saya terasa lembab. Saya pikir tidak ada orang yang merasakan ketakutan yang saya alami ketika saya harus berbicara di depan sekelompok orang. Saya lebih memilih berhadapan dengan seekor singa yang kelaparan daripada harus berbicara di depan orang-orang berdurasi 5 menit. Namun saya tetap harus melakukannya karena merupakan bagian dari pekerjaan saya. Awalnya memang sangat-sangat tidak mengenakkan, tetapi lama-lama saya menjadi terbiasa.

Saya menceritakan ini untuk memberikan ilustrasi bahwa rasa takut merupakan sesuatu yang tidak nyata – rasa takut bisa diatasi. Namun satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut adalah dengan menghadapinya. Anda bisa menjalani hidup anda dalam rasa takut, atau mengatasinya.

Kita semua tahu bahwa akhirnya tidak ada satu pun yang kita lakukan yang benar-benar berarti. Dalam 100 tahun kita akan meninggal dan terkubur. Dalam 1000 tahun tidak ada seorang pun yang mengingat kita. Dalam 1 juta tahun ras manusia mungkin sudah musnah. Sehingga kita harus memanfaatkan setiap hari yang ada selama ada waktu! Jangan biarkan rasa takut menguasai diri anda. Hadapi rasa takut anda; lakukan apa yang anda takuti dan anda akan mengubah kehidupan anda.

 

Bermimpi

”Salah satu hal tragis yang saya ketahui tentang manusia adalah kita cenderung menunda kehidupan. Kita memimpikan sebuah taman bunga di horison dan melupakan mawar yang mekar di luar jendela kita hari ini.”

Tanpa mimpi, kehidupan tidak berarti apa-apa. Merupakan sebuah tragedi ketika kebanyakan dari kita membiarkan kehidupan menghancurkan impian kita. Ada kalanya kita memimpikan hal-hal besar dan fantastis – masa tersebut terjadi ketika kita merasa semua hal mungkin terjadi, ketika kita melihat hal-hal indah yang ada di dunia. Namun impian harus menuntun kita ke suatu tempat. Impian bisa menjadi penunjuk arah dan bisa memberikan kesuksesan dan kebahagiaan jika kita mengikuti impian kita dengan ketekunan.

Namun seringkali kita menjadi terperangkap ke dalam halusinasi. Hari ini kita mempersiapkan diri untuk hari esok, dan tindakan-tindakan serta pikiran kita hari ini membentuk masa depan kita, namun hidup di dalam masa depan itu bukanlah sebuah pilihan jika kita ingin merasa bahagia. Jika kita terbiasa hidup di taman bunga ajaib seperti yang diceritakan Dale Carnegie, maka saat kita tiba disana, kita tidak akan mengenali tempat tersebut dan kita tidak akan menikmati hasil yang kita raih.

Ketika kita melihat kembali semua pengalaman yang telah kita alami, kita hanya memiliki diri kita sendiri untuk diberi ucapan terima kasih, atau untuk disalahi, atas semua kebahagiaan dan kebebasan yang kita raih. Pada dasarnya kita hanya memiliki diri kita sendiri. Namun kenyataan tidak selalu seperti itu – kita bisa belajar dari orang lain yang telah mengalami apa yang kita lalui dan membiarkan mereka menuntun kita.