10 Tips Menjadi Coach yang Sukses

Dalam 5 tahun terakhir ini di Indonesia profesi sebagai coach banyak yang cari, sebab seorang coach memang bisa bantu membuat sebuah bisnis berjalan dengan efektif dan efisien. Sementara coach juga bisa meningkatkan performance orang-orang yang dicoachingnya.

Tetapi bagaimana menjadi seorang coach yang baik dan bisa sukses, berikut kami informasikan 10 tipsmenjadi coach yang sukses:

  1. Jadilah pendengar yang baik – salah satu kunci sukses sebagai coach adalah kemampuan untuk mendengarkan dengan seksama dan menangkap apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh klien.
  2. Buat komitmen – sebagai coach, komitmen Anda kepada klien harus kuat dan konsisten. Ini akan membuat klien merasa dipercayakan dan membuat mereka lebih mungkin untuk mencapai tujuan mereka.
  3. Pertahankan kerahasiaan – memastikan kerahasiaan klien Anda adalah hal yang penting untuk membuat klien merasa nyaman berbagi dengan Anda.
  4. Jadilah objektif – sebagai coach, Anda harus selalu menjaga pandangan yang objektif dan tidak memihak. Ini akan membantu klien Anda untuk melihat situasi dengan jelas dan menemukan solusi yang paling efektif.
  5. Bantu klien Anda untuk menemukan tujuan yang jelas – membantu klien Anda untuk menemukan tujuan yang jelas dan spesifik adalah hal yang penting untuk membuat mereka merasa tertantang dan bersemangat untuk mencapai tujuan tersebut.
  6. Berikan dukungan – sebagai coach, Anda harus selalu siap untuk memberikan dukungan dan bimbingan kepada klien Anda, terutama saat mereka mengalami kesulitan.
  7. Fokus pada proses – jangan terlalu terpaku pada hasil akhir, fokus pada proses yang dilalui klien Anda dan bantu mereka untuk belajar dari setiap pengalaman.
  8. Jadilah contoh – sebagai coach, Anda harus menjadi contoh yang baik dan menunjukkan kepada klien Anda bahwa Anda juga mengikuti nasihat yang Anda berikan.
  9. Berikan umpan balik – sebagai coach, Anda harus selalu memberikan umpan balik yang konstruktif dan membantu klien Anda untuk belajar dari kesalahan mereka.
  10. Jangan menganggap diri Anda sebagai guru – sebagai coach, Anda harus selalu ingat bahwa Anda tidak ada untuk memberikan jawaban atau mengajari klien Anda, tetapi untuk membantu mereka menemukan jawaban sendiri.

 

Selamat mencoba dan mempraktekkan tips diatas, sehingga Anda semakin sukses untuk jadi seorang coach.

Fenomena seorang Rainmaker

Dulu, brand hanya diasosiasikan sebagai produk dan korporasi, sekarang brand ituh !?

Hal ini jadi isu menarik karena di masa sekarang banyak orang punya personal branding , akibatnya kecenderungan orang untuk lebih mendengarkan suara personal lebih kentara akibat munculnya social media ( Blog, Social Network, bahkan Twitter/facebook/instagram ).

Dulu sebelum adanya internet, sebuah perusahaan akan memanggil seorang jurnalis untuk mengenalkan produk dan layanan atau brand itu akan menyewa jasa marketing agency , itu sudah lumrah. Sekarang perusahaan justru lebih interest menyewa kekuatan personal. Fenomena baru, bagi seorang rainmaker dan sebuah perusahaan maupun iklim marketing.

 

The Power of Personal Branding

Seperti halnya istilah di dunia marketing, kesuksesan branding tidak bisa dimonitor/diukur langsung lewat ROI(Return of Investement ) . Tapi sebagai subject pelaku personal marketing , anda sudah seharusnya merasakan imbasnya. Memang bukan berarti revenue anda meningkat setiap tweet atau posting yang anda lontarkan, tapi mungkin bisa lewat jalan lain, misalnya anda mendapat pekerjaan tanpa melewati prescreening test atau juga tanpa gelar formal anda.

Peran personal branding bukan artinya menyematkan brandol harga akan dirimu. Tapi personal branding lebih berperan membangun atau meningkatkan pencitraan diri, tentang ‘mengiring’ bagaimana publik seharusnya menilaimu.

Fungsi social media telah merubah segalanya. Lewat media baru ini setiap orang memiliki kesempatan yang sama dengan kata lainnya, seseorang tidak perlu lagi berebut publikasi. Namun permasalahan sewaktu membangun brand itu  tetap sama, yaitu partisipasi anda sangat menentukan.

 

Berapa sih Harga Influence Seorang Rainmaker

Fenomena baru dari personal branding jelas menimbulkan ‘masalah baru’ dalam marketing, Seberapa sih ongkos untuk menyewa seorang rainmaker ?. Lalu bagaimana seorang rainmaker bisa menghargai ( mengukur ) influence -nya?

Karena personal branding identik dengan social media, ngak salah rasanya kalau tolak ukurnya memakai media yang sama. Berikut, mari kita coba telusuri apa yang bisa dijadikan parameter dalam mengukur performa seorang rainmaker

 

Friends / Fan and Followers

Menghargai berita sebuah web news harusnya berbeda dengan menghargai sebuah media yang didasari kekuatan personal brand seperti blog, Fan Page atau Twitter . Beruntung keberadaan facebook, twitter, dan layanan social network / microblogging lainnya semakin popular. Jadi rasanya ngak salah kalau jumlah media ini bisa jadi rujukan pertama yang menggambarkan seberapa luas suara brand didengar, alternative lainnya bisa melalui touchgraph maupun nexus.ludios.net .  Namun masalah yang tersisa adalah, biarpun memiliki banyak fan / followers, belum berarti memiliki authority. Kalau begitu jumlah respond dan RT bisa menjadi indikator berikutnya.

 

Socialize

What’s your personal brand ?  Sebagai apa anda dikenal dan sebagai apa anda didengar !?

Berhubungan dengan Authority diatas sana, memiliki banyak fan / friends dan followers apalah gunanya jika tidak pernah melakukan social activity. “Rasanya jika tidak pernah ber socialize juga berarti tidak punya influence juga kan”. Walaupun bukan metode yang akurat serta efektif dalam mengukur authority dan social activities , namun technorati , backtype , dan addictomatic bisa dijadikan alat monitoring. Jangan lupa dengan google, hal yang bisa di-track adalah jumlah konten dan sebagai apa anda dikenal, sebagai apa anda didengar. Apakah itu online strategist , maupun sebagai blogpreneur .

 

Social respond / reactions

Berhubungan dengan authority, respond (social reactions ) dari pendengar menggambarkan kedalamaninfluence seorang rainmaker . Memang cukup susah karena belum banyak tool yang tersedia untuk mengukur berapa orang yang terpengaruh dengan konten yang diproduksi rainmaker. Beberapa tool haruslah cukup informatif untuk menggambarkan buzz atas suatu keyword atau URL. Lewat tools ini kita juga bisa melihat bagaimana buzz yang diciptakan oleh rainmaker berkembang, baik lewat uberVu , socialcollider maupun google insight . Terakhir, bonus besar bagi marketer yang berhasil menyematkan keywordnya pada twitter trending topic , maupun google trend.

 

Lead / Newsletter membership

Sarana Newsletter, karena pendekatannya bersifat personal jadi tidak jarang newsletter lebih powerful dibanding sebuah posting. Tidak mudah juga meraih banyak lead didalamnya. Sebagai online startegist atau internet marketing harusnya tidak melupakan hal ini, bagaimanapun list building activities menjadi bagian penting dari menghargai personal brand seorang rainmaker. Bagaimana mengukurnya pun cukup mudah, bagaimana memulainya ? sudahkah anda menyiapkan opt in !?

 

Kicauan tweet dan satu posting blog

Kira kira bagaimana harga kicauan satu tweet  ? satu postingan blog ?
Rasanya pendekatannya pun harus berbeda, postingan blog mempunyai kelebihan baik dari sisi meng-explore masalah secara mendetail. Kelebihan lainnya, hanya lewat sebuah artikel di blog, kita mampu melakukan reseaerch netnograpghy ( versi online-nya ethnography ) yang didapat via komen yang natural dan berkualitas.

 

Kekuatan Gambar & Hastag di Instagram

Kira kira bagaimana menghargai postingan instagram?
Seorang rainmaker dihitung kesuksesannya dalam instagram bila berhasil menghasilkan trafik kunjungan dalam sebuah akun instagram. Hal ini tentu di pengaruhi oleh gambar dan hastag yang digunakannya.

Menjadi Menarik di Tempat Kerja dan Mempunyai Pengaruh

Menjadi berpengaruh di perusahaan kamu itu bisa. Yang kamu sebaiknya tampilkan adalah menjadi individu yang mampu merumuskan solusi kreatif untuk masalah kompleks, selain itu berarti mampu menghormati perintah sekaligus menampilkan karakter yang hangat . Sehingga kamu bisa terlihat menarik dengan karakter yang seperti itu. Tapi ingat hal itu juga di tunjang dari penampilanmu. Orang-orang membuat … Read more

Personal Branding untuk Perusahaan

Perusahaan sangat mengerti betapa pentingnya branding dan oleh karena itu mereka berani meng-investasikan untuk itu. Dalam globalisasi seperti sekarang ini, personal branding menjadi penting juga, mengingat persaingan datang dari negara lain seperti Malaysia, Singapura dan India. Kalau kita tidak mempunyai personal branding yang kuat, maka yang dapat terjadi adalah meskipun kemampuan kita sama atau lebih dibanding dengan “expatriate” tetapi gajinya mungkin saja lebih rendah. Sama halnya dengan produk, kita tidak membeli kopinya, melainkan membeli starbucks-nya atau tidak membeli sepatu olahraganya melainkan membeli Nike misalnya. Meskipun ada sepatu yang lebih baik dari Nike tetapi dijual dengan merek Franz, maka orang lebih memilih membeli Nike. Memang dalam keseharian, personal branding juga dikaitkan dengan community branding yang melekat dengan personal orang tersebut, seperti misalnya alumni universitas tertentu, asal negara atau asal perusahaan dapat mempersepsikan orang tersebut. Ada perusahaan konsultan besar yang terkenal, misalnya, di dalamnya mempunyai soft asset yang istimewa seperti karyawan yang cerdas, motivasi tinggi dan mempunyai talen sehingga keluaran dari perusahaan tersebut dapat dibayar mahal di perusahaan lain. Baik atau buruknya persepsi dapat diubah dan diciptakan pada saat kita mengelola brand kita sendiri. Dalam hal ini betapa pentingnya intangible asset yang namanya brand ini.

Belum lagi di era teknologi informasi seperti sekarang, personal branding dapat membantu banyak hal. Dalam hal e-mail misalnya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kita sering kali menerima email dan menghapusnya sebelum dibaca, karena kita menganggap email tersebut tidak penting. Begitu juga dengan sms. Kalau kita sudah memiliki personal branding yang kuat, bisa dipastikan bahwa email atau sms yang kita kirim tidak akan dihapus sebelum dibaca. Kalau dari keseharian, kita dapat menyebut dan mengenal orang-orang yang mempunyai personal brand yang kuat. Sebut saja Rhenald Khasali sebagai pakar di bidang manajemen atau Roy Suryo sebagai pakar telekomunikasi, misalnya. Nama mereka sudah dapat diasosiasikan dengan keahlian tertentu. Personal Branding seperti inilah yang kita perlu bangun untuk menjadikan kita lebih mempunyai value.

 

Brand seperti apa yang perlu dibangun? Jawabnya sederhana, yaitu brand yang terpercaya dan dibangun berdasarkan reputasi. Kalau kita seorang sales executive, tentu saja reputasi dilihat dari banyak aspek diantaranya adalah bagaimana kita mencapai target dan membina hubungan dengan pelanggan, misalnya. Seorang pemimpin dilihat dari bagaimana organisasi menjadi lebih berkembang dengan cara-cara yang benar, misalnya. Seperti sudah disebut sebelumnya, brand berkaitan dengan persepsi sehingga reputasi yang kita bangun seyogyanya selaras dengan persepsi yang akan kita bangun.

 

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana kita memulai memasarkan brand kita? Banyak sekali cara tentang hal ini. Salah satunya sudah dibahas dalam edisi bulan lalu tentang online networking dan memang online networking merupakan tools yang efektif untuk membangn personal brand. Cara lainnya, misalnya, kalau kita senang menulis, coba kirimkan artikel ke media. Dalam hal ini tidak harus dimulai dengan media yang berskala nasional. Kita dapat memulai dengan media lokal atau komunitas kecil dulu. Kalau untuk mahasiswa, misalnya, dapat juga menulis di media kampus. Atau kalau kita senang sebagai public speaker, dapat dimulai dengan memberi seminar, mengajar, menjadi asisten atau lainnya. Tulisan, seminar, email yang kita kirim, dan lainnya diharapkan mencerminkan hal-hal yang berkaitan dengan brand kita. Cara-cara komunikasi yang disebutkan di atas tentu saja tidak memerlukan biaya besar tetapi dapat menciptakan word of mouth marketing, seperti halnya networking melalui teman, kolega, klien maupun customers. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah aktif mengikuti organisasi profesi dan juga alumni.

 

Apapun profesi kita, personal brand perlu dibangun dan dikelola oleh diri kita sendiri. Kedudukan atau jabatan menjadi tidak signifikan lagi andai saja kita sudah mempunyai brand yang kuat karena hal itu akan mengikuti dengan sendirinya. Personal brand dapat menjadi intangible asset yang sangat bernilai seperti halnya cocacola, pepsi col, Mc Donald dan masih banyak lagi. Selamat dan sukese membangun brand.