Tato: Antara Seni, Aktualisasi Diri, Stigma Sosial dan Life Style

Tato memang sudah menjadi bagian dari budaya modern selama bertahun-tahun. Walau sudah banyak orang yang memiliki tato, stigma sosial masih melekat pada mereka yang memilikinya. Tato bisa digunakan sebagai ekspresi diri, stigma, aktualisasi diri atau bahkan sebagai seni.

Tato memiliki sejarah yang panjang dan kaya, yang berasal dari berbagai budaya dan tradisi selama berabad-abad. Asal mula tato yang tepat belum diketahui, namun beberapa bukti menunjukkan bahwa praktik ini ada sejak zaman pra-sejarah. Banyak budaya tradisional, seperti Suku Polynesia, Masyarakat Dayak di Kalimantan, dan Suku Maori di Selandia Baru, memiliki sejarah tato yang kaya.

Pada abad ke-19, tato mulai berkembang pesat di Eropa dan Amerika Serikat, dan sekarang menjadi bagian dari budaya pop yang meluas. Meskipun sejarah tato dipengaruhi oleh berbagai faktor, satu hal yang pasti adalah bahwa tato tetap menjadi cara bagi individu untuk mengekspresikan identitas dan keyakinan mereka.

Walau tato semakin populer, stigma sosial masih ada. Misalnya di Jepang, anggota geng Yakuza sering diidentifikasi dengan desain tato yang rumit. Bahkan di Amerika Serikat, penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki tato bahkan sekedar di lengan bisa dikaitkan dengan stigma sosial.

Namun bagi mereka yang suka dengan seni rajah tubuh permanen, tato adalah cara untuk mengekspresikan identitas mereka dan membedakan diri dari orang lain. Tato juga menjadi cara untuk menunjukkan keyakinan dan kepercayaan.

Tato kini bukan lagi sekedar simbol atau identitas bagi sekelompok orang tertentu, melainkan juga menjadi gaya hidup bagi banyak orang. Tato menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri dan membedakan diri dari orang lain. Banyak orang memiliki tato sebagai bagian dari gaya hidup mereka dan memperlihatkan tato mereka sebagai simbol dari keyakinan dan kepercayaan mereka. Tak heran jika banyak studio tato baru bermunculan, menawarkan berbagai desain tato unik dan menarik bagi para penggemarnya.

Tato memang bukan lagi sekedar subkultur, tapi telah menjadi gaya hidup bagi banyak orang di jaman sekarang. Kita harus menerima perbedaan dan menghormati keyakinan dan pandangan masing-masing orang.

Indonesia Masuki Masa Penuaan Penduduk dengan Lansia Naik 20 Persen

Saat ini usia Herman Susanto menginjak 46 tahun. Bayangan mengenai masa tuanya saat lanjut usia (lansia) belum terpikirkan. Hanya saja sejumlah rencana udah mulai dipersiapkan. Salah satunya mengenai keuangannya.

Herman sudah mulai menabung untuk mewujudkan impiannya untuk mempunyai kontrakan di Kota Jakarta. Kata dia, kontrakan itu nantinya untuk membantu perekonomiannya saat sudah lansia. Sebab, bapak dari anak satu itu berprinsip tidak ingin merepotkan putrinya kelak.

“Persiapan lain ingin belajar menulis. Jadi, saat sudah pensiun ada skill menulis buku sendiri. Sehingga bisa menawarkan draft buku pada penerbit. Enggak menadah tangan ke anak,” kata Herman kepada pilihanhidup.com.

Dia juga tidak ada rencana untuk menikmati masa tuanya di kampung halaman. Kelengkapan fasilitas kesehatan di Jakarta menjadi alasan utamanya. Selain itu, Herman mengaku sebagai peserta aktif BPJS ketenagakerjaan dan kesehatan.

Dia mengharapkan kedua program pemerintah tersebut nantinya sangat berguna saat dirinya sudah tua, khususnya BPJS kesehatan. Sebagai seorang anak yang seringkali mengantarkan ayahnya kontrol rutin ke rumah sakit, Herman juga mengharapkan nantinya pemerintah pusat terus melakukan perbaikan.

Misalnya semakin banyak obat-obatan yang ditanggung oleh program milik pemerintah tersebut. Menurut dia, terdapat beberapa penyakit yang seringkali dihadapi para lansia dan pengobatannya belum ditanggung. Contohnya alzheimer hingga penyakit demensia lainnya.

“Waktu nyokap sakit alzheimer itu ada obat enggak ditanggung dan emang lumayan harganya. Lalu untuk pelayanan fasilitas kesehatan lansia dapat diprioritaskan, yang penting tidak dipersulit-lah nantinya,” ucap dia.

Cerita-cerita persiapan masa pensiun seperti diatas banyak kita jumpai di kalangan orang-orang Indonesia dengan usia diatas 40 tahun.

Sebagai negara keempat dengan populasi terbesar dunia, Indonesia mendekati cepatnya penuaan penduduk. Atau makin meningkatnya jumlah penduduk dengan usia di atas 60 tahun. Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 1998 disebutkan bahwa penduduk lanjut usia (lansia) adalah mereka yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksikan adanya peningkatan persentase penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2045. Yakni sebanyak 19,90 persen dari total penduduk Indonesia.

Sedangkan data dari Kementrian PPN/Bappenas memprediksikan jumlah lansia pada 2045 berjumlah sekitar 61,4 juta jiwa atau sekitar 20-25 persen dari total penduduk. Atau satu dari lima penduduk Indonesia merupakan lansia.

 

Tantangan Indonesia Hadapi Fenomena Penuaan Penduduk

Fenomena penuaan penduduk bukanlah yang baru. Terdapat beberapa negara di dunia yang sudah menghadapinya dengan menerapkan beberapa kebijakan yang diberikan. Misalnya Jerman, Jepang, hingga beberapa negara lainnya.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Marya Yenita Sitohang, menyatakan bahwa fenomena penuaan penduduk berdampak pada suatu negara. Mulai dari aspek kesehatan, keuangan hingga kebutuhan lainnya yang perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Seperti halnya dari pemerintah sampai keluarga.

“Ageing population atau penuaan penduduk merupakan fenomena yang terjadi saat proporsi penduduk lanjut usia (lansia) cukup tinggi, hingga melebihi 20 persen. Sebagai dampak dari penurunan angka kelahiran dan meningkatnya angka harapan hidup, penuaan penduduk telah terjadi lebih dulu di negara-negara maju,” kata Marya tertuang dalam laman Liputan6.com.

Menurut dia, Indonesia perlu belajar dari sejumlah negara yang terlebih dulu mengalami fenomena penuaan penduduk. Marya menyatakan penduduk lansia identik dengan berbagai masalah kesehatan mulai dari penurunan fungsi penglihatan, pendengaran, pergerakan, dan sebagainya.

Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi berbagai penyakit menular, gizi buruk, dan penyakit tidak menular yang seringkali dijumpai pada lansia. Hal tersebut pada akhirnya akan membatasi aktivitas dan produktivitas para lansia. Bahkan, nantinya kondisi itu juga meningkatkan kebutuhannya terkait pelayanan kesehatan.

Karena itu dia, meminta agar pemerintah perlu melakukan sejumlah penguatan dalam menghadapi fenomena tersebut. Yakni dalam hal kesehatan yang mencakup sumber daya sampai kemampuan pelayanan fasilitas kesehatan. Sebab, pelayanan tersebut tidak hanya untuk lansia, tetapi semua masyarakat.

“Pemerintah juga harus memikirkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. Penuaan penduduk identik dengan peningkatan pembiayaan kesehatan karena naiknya penggunaan pelayanan serta teknologi kesehatan,” ucap dia.

 

Dorongan Hidup Sehat

Sementara itu dia juga meminta agar masyarakat usia produktif saat ini mulai melakukan perilaku hidup sehat. Dimulai dari olahraga secara teratur, pemenuhan gizi yang cukup, manajemen stress yang baik, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk membantu persiapan kesehatan fisik dan mental ketika berusia lanjut.

Marya menyebut, tantangan terbesar bagi negara yang mengalami penuaan penduduk adalah mengembangkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang seimbang dan berkelanjutan. Yaitu tanpa menitikberatkan pada subsidi negara atau masyarakat yang membayar saat menerima pelayanan kesehatan.

“Sejauh ini dari hasil penelitian yang pernah kita lakukan di pusat penelitian kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional, negara sudah memiliki beberap kebijakan yang mendukung lansia di masa depan. Salah satunya jaminan lansia yang dimiliki oleh BPJS ketenagakerjaan serta asuransi kesehatan dan BPJS kesehatan,” ujarnya.

 

Literasi Keuangan untuk Dana Pensiun Rendah

Lanjut dia, dalam aspek keuangan untuk kalangan PNS dan TNI/Polri sudah memiliki sistem dana pensiun. Namun, ada sejumlah pekerja rumah untuk angkatan kerja di sektor lainnya. Termasuk dalam menyiapkan sistem yang lebih baik untuk menjangkau para angkatan kerja di berbagai sektor.

Kata Marya, sebenarnya keberadaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan dan program pensiun untuk merupakan langkah awal yang baik untuk para lansia nantinya. Namun, literasi keuangan, khususnya dana pensiun, penduduk Indonesia masih perlu kita tingkatkan.

“Namun kita tahu sendiri ketika pemerintah meningkatkan aturan untuk bisa cairkan dan jaminan hari tua di atas usia 56 tahun itu terjadi protes di antara para buruh, sehingga aturannya sempat dibatalkan kembali. Jadi dari fenomena ini kita dapat melihat bahwa kesadaran penduduk Indonesia terkait pentingnya dana pensiun masih cukup rendah dan kita harus sadar bahwa kepemilikan dana pensiun untuk hari tua sangat penting,” papar dia.

Marya mengatakan terdapat sejumlah langkah yang sudah mulai dilakukan oleh pemerintah pusat dalam peningkatan kesejahteraan para lansia. Seperti halnya bantuan sosial dari Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan yang berupa posyandu lansia dan program terkait penyakit degeneratif yang diderita para lansia.

Kemudian adanya Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan. Aturan itu kata Marya diharapkan dapat menjadi pendorong terjadinya peningkatan kualitas sistem pelayanan kesehatan, peningkatan literasi keuangan, serta kebijakan terkait tempat tinggal lansia Indonesia di masa depan.

Apa yang perlu kita lakukan?

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan hal tersebut. Bila Anda sekarang diusia 30  sampai 40 masih mempunyai kesempatan untuk membangun pondasi “pensiun”.

Sementara kalau Anda masih bingung, jangan khawatir, saat ini ada sebuah komunitas yang setiap bulannya mengadakan pembahasan masa pensiun. Komunitas ini hadir memang untuk Anda yang mempersiapkan pensiun sekaligus mungkin masih mendampingi orang tua Anda sendiri atau mertua Anda.

Nama komunitas tersebut adalah Happy Sandwich Community. Bila ingin join silahkan klik disini.

Trends Sepatu 2023 Jatuh Pada Sneakers

Tahun 2023 sudah berjalan selama 10 hari, pasti kau mau tahu trends sepatu di tahun ini. Sepatu saat ini sudah tidak hanya sebagai tuntutan formalitas, tetapi sudah berubah menjadi gaya hidup.  Bahkan sepatu akan mempengaruhi penampilanmu di setiap kesempatan.  sejak beberapa tahun yang lalu trend sepatu sudah tidak dipisahkan antara sepatu formal maupun sepatu non formal.

Pasti kamu ingin tahu dong, trend sepatu di tahun 2023.
Apakah trend 2002 3 akan jauh berbeda dengan Tahun 2022? 

Menurut para ahli fashion, trend sepatu 2023 masih dipegang oleh sneaker. Ditahun ini sepatu performa seperti Hoka dan gaya 2000-an (Y2K) tetap eksis. Sementara itu, hype Nike Dunk akan mulai berkurang. 

Siluet Yeezy bahkan diramal kehilangan popularitas pasca Adidas memutus kerja sama dengan desainer dan rapper Kanye West.

Inilah tren sneaker yang populer dan bakal ditinggalkan di tahun 2023, dikutip laman The Insider

  1. Memadukan sepatu performa dengan pakaian kasual

Sepatu performa tebal kini menjadi bagian dari pakaian kasual. 

Jadi jangan heran, jika sepatu Hoka One One, Asics, atau Salomon akan sering terlihat dipakai orang berjalan-jalan atau berolahraga di gym. 

“Apa yang menarik adalah merek-merek itu sangat fokus pada performa, tidak terlalu fokus untuk terlihat keren,” ujar Heather Newberger, penata fesyen dan penulis. 

Beberapa siluet yang diperkirakan menjadi tren di kalangan konsumen termasuk Hoka Clifton, Asics Gel-Kayano, hingga Salomon XT-6. “Salomon XT-6 adalah sepatu populer di tahun 2023 karena kita mendapatkan sepatu bagus dan nyaman yang menarik bagi banyak konsumen berbeda,” tutur Youtuber sepatu kets dan fesyen, Bryce Moore.

 

  1. Meningkatnya pamor New Balance

New Balance, merek yang identik dengan sepatu ayah alias dad shoes sangat digemari saat ini. 

Menurut Moore, kolaborasi New Balance dengan desainer semacam JJJJound dan Joe Freshgoods meningkatkan popularitas siluet seperti 990 V3 dan 993. 

Moore memperkirakan, siluet 1096R bersol tebal bisa menjadi siluet hype berikutnya dari New Balance. 

 

  1. Minat terhadap Nike Dunk dan New Balance seri 550 menurun 

Selama pandemi banyak model Nike Dunk dan New Balance 550 yang dirilis ke publik. 

Namun, hype kedua sepatu tersebut akan surut di tahun ini. 

 

  1. Momen bangkitnya Adidas Samba

Moore memperkirakan, Adidas Samba bisa menjadi penerus New Balance 550 atau Nike Dunk. Siluet Samba sudah ada sejak tahun 1949, ketika Adidas pertama kali meluncurkan siluet tersebut sebagai sepatu sepak bola. 

Tahun ini, Adidas memperkenalkan kolaborasi yang ditunggu-tunggu dengan desainer JJJJound. 

Merek perlengkapan olahraga asal Jerman itu juga bermitra dengan desainer Inggris Grace Wales Bonner dalam beberapa model Samba, termasuk yang dilepas Juni 2022 lalu. 

“Banyak dari siluet Samba berasal dari histeria pasca Piala Dunia,” kata Newberger. 

“Ini adalah jenis sepatu yang sudah lama disukai di Inggris atau di luar negeri.” 

 

  1. Adidas Yeezy tak lagi populer

Model Yeezy akan ketinggalan zaman pada tahun 2023, menyusul perpisahan Adidas dan Kanye West. 

Rapper dan desainer itu “diceraikan” Adidas pada Oktober tahun lalu usai melakukan serangkaian tindakan kontroversial, termasuk ujaran kebencian bernada anti-semit di medsos.

 “Ye membuat sepatu itu (Yeezy) memiliki konotasi yang buruk,” sebut Brendan Cannon, penata gaya di Cannon Media Group. 

“Orang tidak mau memakai Yeezy karena mereka tidak ingin orang lain mengomentarinya di jalan.” Adidas sekarang berencana merilis model Yeezy tanpa branding Yeezy pada awal tahun ini. 

Tapi minat pecinta sneaker pada sepatu itu tidak akan lagi sama seperti dulu. 

 

  1. Memadukan sneaker dengan pakaian santai dan gaun

Gaya kasual seperti memadukan sneaker dengan pakaian santai akan terus berlanjut, menurut Cannon. 

“Semua orang akan memilih pakaian yang santai dan keren karena ini juga fashion-forward,” paparnya. 

Kombinasi gaya kasual yang menjadi hits di tahun 2023 termasuk memakai celana straight leg atau wide leg dan kaus atau rompi oversized. Kombinasi sneaker dengan gaun juga akan banyak ditemui, lanjut Cannon. 

“Gwen Stefani berada di garis depan dari tampilan gaun dan sepatu kets. Tapi tampilan itu kembali karena itu memadukan kenyamanan dan gaya,” imbuhnya. 

 

  1. Permintaan sneaker berkelanjutan dan ramah lingkungan meningkat 

Semakin banyak merek yang melayani keinginan pembeli milenial dan Gen Z untuk fesyen berkelanjutan, kata Newberger dan Cannon. 

Merek seperti Allbirds dan Veja dikenal sering membuat sneaker ramah lingkungan. 

Bahkan, merek raksasa semacam Nike dan Adidas mulai mengkampanyekan penggunaan plastik daur ulang di beberapa desain perusahaan. 

 

  1. Gaya Y2K akan bertahan

Gaya Y2K yang melanda di akhir 90-an akan bertahan sedikit lebih lama di tahun 2023, berkat Gen Z dan banyaknya unggahan video di TikTok. 

Pakaian era Y2K yang populer termasuk rok mini, kaus oversized, dan jaket kulit. 

Sementara itu, alas kaki Y2K mencakup sepatu platform dan sepatu bot serta sneaker bersol tebal. 

“Membawa tren itu kembali sepertinya sangat cocok untuk saat ini karena itu semua tentang kenyamanan dan gaya,” kata Cannon.

Mengelola Pengeluaran, Kunci Keuangan yang Sehat

Pengeluaran sering luput dari perhatian dari kita, sibuk mengejar gaji dan pendapatan. Padahal, mengelola pengeluaran dengan baik justru kunci keuangan yang sehat.

Apakah Anda tahu pengeluaran terbesar Anda setiap bulannya pada bagian apa? Atau pengeluaran kecil-kecil tapi lumayan banyak?  Bagaimana mungkin, bisa mengelola atau meng-efisienkan pengeluaran kalau jumlahnya saja tidak tahu. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah.

Karena itu, awalnya, saya harus tahu dulu secara rinci apa saja pengeluaran tiap bulan.

Caranya mudah. Saya mencatat semua pengeluaran, tanpa terkecuali, dalam satu bulan. Dilakukan selama 3 sampai 6 bulan, supaya didapat pola pengeluaran yang stabil. Layaknya dokter, diagnosis tepat akan menghasilkan resep manjur. Pencatatan pengeluaran adalah diagnosis, sebelum langkah perbaikan dilakukan.

Dari pencatatan pengeluaran bulanan ini, beberapa informasi berharga bisa saya dapat.

Pertama, tahu berapa pengeluaran sebulan dan, yang lebih penting, tahu apakah pengeluaran itu lebih kecil, sama atau lebih besar dari pendapatan. Kalau pengeluaran mendekati atau melebihi pendapatan, tidak heran, investasi jadi kecil. Meskipun gaji besar, semuanya habis untuk pengeluaran, tidak ada yang tersisa untuk investasi.

Kedua, tahu mana kegiatan atau life style yang paling boros, dan lebih penting lagi, yang boros dan tidak penting. Tujuannya, supaya saat nanti ingin hemat, sudah tahu pos mana yang paling signifikan untuk dikurangi.

Ketiga, jadi tahu juga bahwa pengeluaran yang kelihatannya kecil, misalnya ngopi di cafe, naik taksi, jajan makan siang, ternyata jumlahnya besar jika diakumulasi dalam satu bulan. Sementara, selama ini, karena pengeluaran ini terlihat kecil, saya sering tidak ambil pusing dan tidak banyak berhitung waktu membayarnya. Coba saja hitung berapa total pengeluaran anda untuk ngopi, jajan, dan makan malam di luar, selama sebulan. Nanti kaget sendiri lihat jumlahnya.

Keempat, pelajaran paling berharga adalah soal pemahaman atas gaya hidup. Pengeluaran itu refleksi dari gaya hidup kita. Bagaimana kita menghabiskan uang kita mencerminkan gaya hidup yang ingin kita pertahankan. Jika ingin mengubah pola pengeluaran, berarti kita harus merubah gaya hidup.

Setelah tahu dengan rinci soal pengeluaran, pengelolaan menjadi lebih mudah. Semuanya sudah ada hitung-hitungannya. Tinggal pilihan dan pertimbangan masing – masing, mau mengurangi apa, jika dirasa ingin meningkatkan investasi. Mencatat pengeluaran baru langkah awal. Langkah berikut yang lebih sulit  adalah saat kita harus merubah gaya hidup supaya dapat mengurangi pengeluaran. Gaya hidup seringkali menyentuh gengsi dan, lebih dalam lagi, harga diri, sehingga tidak mudah dirubah dalam sekejap.

Saran saya sederhana, saat anda kesulitan merubah gaya hidup, ingat bahwa percuma punya pendapatan besar, kalau pengeluaran tidak bisa dikendalikan, yang nantinya berujung pada tidak ada sisa untuk investasi.

Mau Tahu Cara Mengatasi Hedonisme?

Setelah mengetahui dampak hedonisme yang merugikan kehidupan pribadi dan sekitar, pastinya sobat pilihanhidup.com  ingin menghindari perilaku hedonisme. Nah cari tahu cara mengatasi hedonisme di bawah ini. Mengubah Mindset Konsumtif Jadi ProduktifCara mengatasi hedonisme pertama, yaitu mengubah mindset konsumtif jadi produktif. Anda harus memiliki pola pikir memandang sesuatu berdasarkan produktivitasnya. Pertimbangkan keuntungan di masa sekarang dan … Read more

Gaya Hidup Hedonisme, Yuk cari Tahu Hal ini.

Pernah mendengar hedonisme?  Bagi sebagian orang, hedonisme adalah istilah yang barangkali sudah tak asing lagi. Hedonisme merupakan konotasi yang selama ini dianggap buruk.  Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Hedonisme artinya seringkali dikaitkan dengan berfoya-foya.  Hedonisme adalah istilah yang sebenarnya berasal … Read more

5 Pilihan Gaya Hidup, Manakah yang Cocok Untukmu?

Kamu sedang bosan, boring atau ingin keluar dari hidupmu? Jangan lakukan hal itu, cukup ganti saja gaya hidupmu. Coba simak gaya hidup ini, siapa tahu cocok buat kamu sekarang. Contoh gaya hidup yang tepat akan berdampak baik pada kesehatan fisik dan mental.  Gaya hidup adalah fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi, nilai, minat, pendapat, dan perilaku … Read more

Personal Branding untuk Perusahaan

Perusahaan sangat mengerti betapa pentingnya branding dan oleh karena itu mereka berani meng-investasikan untuk itu. Dalam globalisasi seperti sekarang ini, personal branding menjadi penting juga, mengingat persaingan datang dari negara lain seperti Malaysia, Singapura dan India. Kalau kita tidak mempunyai personal branding yang kuat, maka yang dapat terjadi adalah meskipun kemampuan kita sama atau lebih dibanding dengan “expatriate” tetapi gajinya mungkin saja lebih rendah. Sama halnya dengan produk, kita tidak membeli kopinya, melainkan membeli starbucks-nya atau tidak membeli sepatu olahraganya melainkan membeli Nike misalnya. Meskipun ada sepatu yang lebih baik dari Nike tetapi dijual dengan merek Franz, maka orang lebih memilih membeli Nike. Memang dalam keseharian, personal branding juga dikaitkan dengan community branding yang melekat dengan personal orang tersebut, seperti misalnya alumni universitas tertentu, asal negara atau asal perusahaan dapat mempersepsikan orang tersebut. Ada perusahaan konsultan besar yang terkenal, misalnya, di dalamnya mempunyai soft asset yang istimewa seperti karyawan yang cerdas, motivasi tinggi dan mempunyai talen sehingga keluaran dari perusahaan tersebut dapat dibayar mahal di perusahaan lain. Baik atau buruknya persepsi dapat diubah dan diciptakan pada saat kita mengelola brand kita sendiri. Dalam hal ini betapa pentingnya intangible asset yang namanya brand ini.

Belum lagi di era teknologi informasi seperti sekarang, personal branding dapat membantu banyak hal. Dalam hal e-mail misalnya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kita sering kali menerima email dan menghapusnya sebelum dibaca, karena kita menganggap email tersebut tidak penting. Begitu juga dengan sms. Kalau kita sudah memiliki personal branding yang kuat, bisa dipastikan bahwa email atau sms yang kita kirim tidak akan dihapus sebelum dibaca. Kalau dari keseharian, kita dapat menyebut dan mengenal orang-orang yang mempunyai personal brand yang kuat. Sebut saja Rhenald Khasali sebagai pakar di bidang manajemen atau Roy Suryo sebagai pakar telekomunikasi, misalnya. Nama mereka sudah dapat diasosiasikan dengan keahlian tertentu. Personal Branding seperti inilah yang kita perlu bangun untuk menjadikan kita lebih mempunyai value.

 

Brand seperti apa yang perlu dibangun? Jawabnya sederhana, yaitu brand yang terpercaya dan dibangun berdasarkan reputasi. Kalau kita seorang sales executive, tentu saja reputasi dilihat dari banyak aspek diantaranya adalah bagaimana kita mencapai target dan membina hubungan dengan pelanggan, misalnya. Seorang pemimpin dilihat dari bagaimana organisasi menjadi lebih berkembang dengan cara-cara yang benar, misalnya. Seperti sudah disebut sebelumnya, brand berkaitan dengan persepsi sehingga reputasi yang kita bangun seyogyanya selaras dengan persepsi yang akan kita bangun.

 

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana kita memulai memasarkan brand kita? Banyak sekali cara tentang hal ini. Salah satunya sudah dibahas dalam edisi bulan lalu tentang online networking dan memang online networking merupakan tools yang efektif untuk membangn personal brand. Cara lainnya, misalnya, kalau kita senang menulis, coba kirimkan artikel ke media. Dalam hal ini tidak harus dimulai dengan media yang berskala nasional. Kita dapat memulai dengan media lokal atau komunitas kecil dulu. Kalau untuk mahasiswa, misalnya, dapat juga menulis di media kampus. Atau kalau kita senang sebagai public speaker, dapat dimulai dengan memberi seminar, mengajar, menjadi asisten atau lainnya. Tulisan, seminar, email yang kita kirim, dan lainnya diharapkan mencerminkan hal-hal yang berkaitan dengan brand kita. Cara-cara komunikasi yang disebutkan di atas tentu saja tidak memerlukan biaya besar tetapi dapat menciptakan word of mouth marketing, seperti halnya networking melalui teman, kolega, klien maupun customers. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah aktif mengikuti organisasi profesi dan juga alumni.

 

Apapun profesi kita, personal brand perlu dibangun dan dikelola oleh diri kita sendiri. Kedudukan atau jabatan menjadi tidak signifikan lagi andai saja kita sudah mempunyai brand yang kuat karena hal itu akan mengikuti dengan sendirinya. Personal brand dapat menjadi intangible asset yang sangat bernilai seperti halnya cocacola, pepsi col, Mc Donald dan masih banyak lagi. Selamat dan sukese membangun brand.